MAKALAH
SISTEM NEUROBEHAVIOR
Tia
(Transient Ischemic Attack)
Disusun
Oleh Kelompok 5:
1.
Diana Lia Puspita Sari (A6.12.11)
2.
Diana Palupiningrum (A6.12.12)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS.BAPTIS KEDIRI
PRODI
S1 KEPERAWATAN
TAHUN
AJARAN 2013/2014
BAB I
Tinjauan Teori
1.1 Definisi
TIA didefinisikan secara
patofisiologis, sebagai kematian jaringan otak karena pasokan darah yang tidak
adekuat. Definisi klinis stroke iskemik ialah deficit neurologis fokal yang
timbul akut dan berlangsung lebih lama dari 24 jam dan tidak disebabkan oleh
perdarahan.
TIA dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu:
-
Faktor
pembuluh darah
-
Faktor
susunan darah
-
Faktor
aliran darah (CBF)
1.2 Etiologi
Penyebab TIA sama dengan stroke penyumbatan,
yaitu karena adanya penimbunan kolesterol di dinding pembuluh darah otak atau
adanya gumpalan darah dalam aliran darah ke otak dari bagian tubuh lain,
seringkali berasal dari jantung, yang antara lain dapat berupa:
1. Trombosis.:
proses koagulasi dalam pembuluh darah yang berlebihan sehingga menghambat
aliran darah dalam sistem kardiovaskuler.
2. Embolisme :
penyumbatan pembuluh darah yang terjadi di berbagai bagian tubuh oleh embolus
(zat asing) yang bergerak melalui aliran darah dan kemudian bersarang di
dalamnya.
3. Perdarahan
serebri : perdarahan otak
1.3 Tanda
dan Gejala
Gejala
Transient Ischemic Attack mirip dengan stroke biasa. Berikut adalah beberapa
gejalanya, tergantung bagian mana dari sistem peredaran darah dan otak yang
terkena:
a. Masalah penglihatan di salah satu atau kedua mata,
termasuk penglihatan ganda dan kebutaan sementara.
b. Pusing, bingung, dan lemah.
c. Kesulitan berbicara, termasuk berbicara dengan
intonasi kacau.
d. Tidak dapat berjalan (ataxia)
e. Kehilangan ingatan atau kesadaran secara tiba-tiba.
f. Kesulitan
koordinasi tangan dan lengan.
g. Lemah atau lumpuh di satu sisi tubuh.
Tanda-tandanya:
a. Salah satu sisi tubuh terasa kebas (mati rasa) dan
berat.
b. Kesulitan menggerakkan lengan, leher, wajah hanya pada
satu sisi tubuh.
c. Pandangan kabur dan suram, atau segala sesuatu tampak
dobel bahkan tak bisa melihat sama sekali.
d. Susah bicara, huruf atau kata yang diucapkan
berantakan.
e. Sulit mengerti suatu susunan huruf.
f. Merasa sulit berdiri tegak dan berjalan lurus, pusing,
atau jadi ceroboh.
1.4 Fisiologis
Stroke
sementara ini disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluh
darah, sumbatan dan penyempitan atau pecahnya pembuluh darah bahkan kelainan
jantung, semua ini menyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai. Sehingga
dapat menyebabkan kerusakan/kematian sel saraf otak. Akibatnya sistem saraf
terganggu.
1.5 Patofisiologis
1.6 Manifestasi
Klinis
a) Defisit
motorik yang umum
1. Hemiparesis
(kekuatan otot yang berkurang pada separuh tubuh) atau hemiplegia (kelumpuhan
yang dialami oleh satu sisi dari bagian tubuh)
2. Disartria (gangguan
bicara yang diakibatkan cidera neuromuscular).
3. Disfagia
(kesulitan menelan)
b) Defisit
sensori yang umum
1. Defisit
visual
2. Hilang
respon terhadap sensasi superfisial
3. Hilang
respon terhadap propriresepsi (kemampuan mengontrol gerakan dan posisi tubuh).
4. Defisit
perceptual.
c) Defisit
bahasa
d) Defisit
Intelektual
e) Defisit
Emosional
f) Disfungsi
kandung kemih
g) Disfungsi
usus
1.7 Pemeriksaan
Penunjang
1.
Pemeriksaan
CT (Computed Tomography)
2.
MRI
(Magnetic Resonance Imaging)
3.
MRA
(Magnetic Resonance Angiography)
4.
Ultrasonografi Doppler transkranial
dapat dipakai untuk mendiagnosis oklusi atau stenosis arteri intrakranial
besar. Gelombang intrakranial yang abnormal dan pola aliran kolateral dapat
juga dipakai untuk menentukan apakah suatu stenosis pada leher menimbulkan
gangguan hemodinamik yang bermakna.
1.8 Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan:
- Membatasi atau memulihkan iskemia akut yang sedang berlangsung (3-6 jam pertama) menggunakan trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue-plasminogen activator). Pengobatan ini hanya boleh diberikan pada stroke iskemik dengan waktu onset < 3 jam dan hasil CT Scan normal. Obat ini sangat mahal dan hanya dapat dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap.
- Pertimbangkan pemantauan irama jantung untuk pasien dengan aritmia jantung atau iskemia miokard. Bila terdapat fibrilasi atrium respons cepat maka dapat diberikan digoksin 0,125-0,5 mg intravena atau verapamil 5-10 mg intravena atau amiodaron 200 mg drips dalam 12 jam.
- Tekanan darah yang tinggi pada stroke iskemik tidak boleh terlalu cepat diturunkan.Akibat penurunan tekanan darah yang terlalu agresif pada stroke iskemik akut dapat memperluas infark dan perburukan neurologis.
BAB
II
Asuhan
Keperawatan Pada PasienTIA
(Transient
Ischemic Attack)
2.1 Pengkajian
Untuk mengetahui permasalahan yang ada pada klien dengan stroke infark
perlu dilakukan pengkajian yang lebih menyeluruh dan mendalam dari berbagai
aspek yang ada sehingga dapat ditemukan masalah-masalah yang ada pada klien
dengan stroke infark.
1.
Aktivitas atau istirahat
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami kesulitan dalam melakukan
aktivitas ataupun istirahat, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda
sebagai berikut :
Gejala : merasa kesulitan dalam melakukan aktifitas karena kelemahan,
kehilangan sensasi atau paralisis ( hemiplegi ), merasa mudah lelah, susah
untuk beristirahat.
Tanda : gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), kelemahan umum,
gangguan penglihatan dan gangguan tingkatan kesadaran.
2.
Sirkulasi
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami perubahan dalam sistem
sirkulasi, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala :
adanya penyakit jantung, polisitemia
Tanda :
hipertensi arterial, frekuensi nadi dapat bervariasi, distrimia, perubahan EKG
3.
Integritas Ego
Pada klien dengan stroke infark akan merasakan suatu
perubahan keadaan emosional dalam dirinya, hal ini dapat diketahui melalui
gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala : perasaan tidak berdaya dan putus asa.
Tanda : emosi yang labil, ketidaksiapan untuk marah ,
sedih, gembira dan kesulitan untuk mengekspresikan diri.
4.
Eliminasi
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami perubahan dalam kebutuhan
eliminasinya, baik kebutuhan bak maupun bab, hal ini dapat diketahui melalui
gejala sebagai berikut :
Gejala :
perubahan pola kemih, distensi abdomen, bising usus negatif.
5.
Makan / Minum
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan makan dan minum, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda
sebagai berikut :
Gejala : nafsu makan hilang, mual muntah, kehilangan sensasi pada lidah,
pipi dan tenggorokan, disfagia, ada riwayat diabetes mellitus, peningkatan
lemak dalam darah.
Tanda :
kesulitan menelan, obesitas.
6.
Neurosensori
Pada klien dengan stroke infark akan mengalami gangguan pada sistem
neurosensorinya, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai
berikut :
Gejala : pusing, sakit kepala, kelemahan atau kesemutan, kebas, penglihatan
menurun, penglihatan ganda, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda : gangguan fungsi kognitif, kelemahanatau paralisis, afasia, kehilangan
kemampuan untuk mengenali atau menghayati rangsangan visual, pendengaran,
kekakuan muka dan kejang.
7.
Nyeri atau Kenyamanan
Pada klien
dengan stroke infark akan merasakan suatu keadaan ketidaknyamanan, hal ini
dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai berikut :
Gejala :
sakit kepala
Tanda :
tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot
8.
Pernafasan
Pada klien dengan stroke infark biasanya akan mengalami masalah dalam
sistem pernafasannya, hal ini dapat diketahui melalui gejala dan tanda sebagai
berikut :
Gejala :
merokok
Tanda : ketidak mampuan menelan , batuk ataupun tambatan jalan nafas,
pernafasan sulit, suara nafas terdengar ronkhi.
9.
Keamanan
Pada klien dengan stroke infark akan sangat rentan terhadap faktor
keamanan, hal ini dapat diketahui melalui tanda sebagai berikut :
Tanda : masalah dengan penglihatan, tidak mampu mengenali objek, gangguan
regulasi suhu tubuh, kesulitan dalam menelan, perhatian sedikit terhadap
keamanan.
10.
Interaksi sosial.
Pada klien dengan stroke infark biasanya akan mengalami kesulitan dalam
melakukan sosial dengan lingkungan sekitarnya, hal ini dapat diketahui melalui
tanda sebagai berikut :
Tanda :
masalah bicara, ketidak mampuan untuk berkomunikasi
11.
Penyuluhan atau Pembelajaran
Pada klien dengan stroke infark sangat diperlukan penyuluhan /
pembelajaran untuk mencegah masalah lebih lanjut, hal ini dapat diketahui
melalui gejala sebagai berikut :
Gejala :
adanya riwayat hipertensi pada keluarga dan stroke
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan pada klien stroke untuk mengetahui penyebab dan daerah
yang terkena menurut Doenges (1999) adalah sebagai berikut :
1.Angiografi Serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara
spesifik.
2.CT Scan : memperlihatkan adanya edema, hematoma, iskemia dan infark.
3.Pungsi lumbal : menunjukan adanya tekanan normal dan biasanya ada
trombosis emboli serebral dan TIA.
4.MRI : menunjukan adanya daerah yang mengalami infark, haemoragik,
malformasi arteriovena.
5.Ultrasonografi Doppler : mengidentifikasikan penyakit arterivena.
6.EEG : mengidentifikasi masalah yang didasarkan pada gelombang otak dan
mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
7.Sinar X tengkorak : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
daerah yang berlawanan dari massa yang meluas, klasifikasi karotis interna dan
parsial dinding aneurisma.
2.2 Diagnosa
Keperawatan
Berdasarkan
data pengkajian yang telah didapat atau terkaji, kemudian data dikumpulkan maka
dilanjutkan dengan analisa data untuk menentukan diagnosa keperawatan yang ada
pada klien dengan stroke infark.Diagnosa keperawatan pada klien stroke adalah
sebagai berikut :
1.Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan tidak adekuatnya
suplai darah serebral, gangguan oklusif, haemoragik, vasospasme serebral, edema
serebral.
2.Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromoskuler,
kelemahan, paralisis.
3.Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
disfagia, kesulitan menelan dan menurunnya nafsu makan.
4.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sensorik,
immobilisasi, inkontinensia, perubahan status nutrisi.
5.Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi
serebral, kerusakan neuromuskuler, kehilangan tonus atau kekuatan otot,
kelemahan/kelelahan umum.
6.Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan persepsi
sensori, transmisi, integritas, stress, psikologis.
7.Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler,
penurunan kekuatan dan ketahanan kerusakan kognitif, nyeri, depresi.
8.Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan pengobatan berhubungan dengan
keterbatasan pengetahuan, tidak mengenal sumber-sumber informasi.
2.3
Perencanaan Keperawatan
Setelah
diagnosa keperawatan pada klien dengan stroke infark ditemukan, maka
dilanjutkan dengan menyusun perencanaan untuk masing-masing diagnosa yang
meliputi prioritas diagnosa keperawatan, penetapan tujuan dan kriteria evaluasi
sebagai berikut :
1.Perubahan
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai darah
serebral, gangguan oklusif, hemoragik, vasospasme serebral, edema serebral
Rencana Perawatan
|
NO
DX
|
DIAGNOSA
|
TUJUAN
|
INTERVENSI
|
|
1
|
Perfusi jaringan tidak efektif: cedera b.d gangguan
sirkulasi darah ke otak
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
...... jam diharapkan perfusi jaringan efektif dg
KH:
1.Perfusi
jaringan cerebral: Fungsi neurology meningkat, TIK dbn, Kelemahan
berkurang
2.Status neurology: Kesadaran
meningkat, Fungsi motorik meningkat, Fungsi persepsi
sensorik meningkat., Komunikasi kognitif meningkat, Tanda
vital stabil
|
Peningkatan perfusi serebral
-
Kaji kesadaran klien
-
Monitor
status respirasi
-
Kolaborasi obat-obatan untuk memepertahankan status
hemodinamik.
-
Monitor laboratorium utk status oksigenasi: AGD
Monitor neurology
-
Monitor pupil: gerakan, kesimetrisan, reaksi pupil
-
Monitor kesadaran,orientasi, GCS dan status memori.
-
Ukur vital sign
-
Kaji peningkatan kemampuan motorik, persepsi
sensorik ( respon babinski)
-
kaji tanda-tanda keadekuatan perfusi jaringan
cerebral
-
Hindari aktivitas yg dapat meningkatkan TIK
-
Laporkan pada dokter ttg perubahan kondisi klien
|
|
2
|
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b/d ketidakmampuan pemasukan b.d faktor biologis
|
Setelah dilakukan askep .. jam terjadi peningkatan
status nutrisi dg KH:
-
Mengkonsumsi nutrisi yang adekuat.
-
Identifikasi kebutuhan nutrisi.
-
Bebas dari tanda malnutrisi.
|
Managemen nutrisi
-
Kaji pola makan klien
-
Kaji kebiasaan makan klien dan makanan kesukaannya
-
Anjurkan pada keluarga untuk meningkatkan intake
nutrisi dan cairan
-
Kelaborasi dengan ahli gizi tentang kebutuhan kalori
dan tipe makanan yang dibutuhkan
-
Tingkatkan intake protein, zat besi dan vit c
-
Monitor intake nutrisi dan kalori
-
Monitor pemberian masukan cairan lewat parenteral.
Nutritional terapi
-
kaji
kebutuhan untuk pemasangan NGT
-
berikan
makanan melalui NGT k/p
-
berikan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk
mendukung makan
-
monitor penurunan dan peningkatan BB
-
monitor intake kalori dan gizi
|
|
3
|
Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan
neuromuskuler, kerusakan persepsi sensori, penurunan kekuatan otot.
|
Setelah dilakukan Askep …. jam diharapkan
terjadi peningkatan mobilisasi, dengan criteria:
Level mobilitas:
-
Peningkatan fungsi dan kekuatan otot
-
ROM aktif / pasif meningkat
-
Perubahan pposisi adekuat.
-
Fungsi motorik meningkat.
-
ADL optimal
|
Latihan : gerakan sendi (ROM)
-
Kaji kemampuan klien dalam melakukan mobilitas fisik
-
Jelaskan kepada klien dan keluarga manfaat latihan
-
Kolaborasi dg fisioterapi utk program latihan
-
Kaji lokasi nyeri/ ketidaknyamanan selama latihan
-
Jaga keamanan klie
-
Bantu klien utk mengoptimalkan gerak sendi pasif
manpun aktif.
-
Beri reinforcement ppositif setipa kemajuan
Terapi latihan : kontrol otot
-
Kaji kesiapan klien utk melakukan latihan
-
Evaluasi fungsi sensorik
-
Berikan privacy klien saat latihan
-
Kaji dan catat kemampuan klien utk keempat
ekstremitas, ukur vital sign sebelum dan sesudah latihan
-
Kolaborasi dengan fisioterapi
-
Beri reinforcement ppositif setipa kemajuan
|
|
4
|
Kerusakan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi
ke otak.
|
Setelah dilakukan askep …. jam, kemamapuan komunitas
verbal meningkat,dg criteria:
Kemampuan komunikasi:
-
Penggunaan isyarat
-
Nonverbal
-
Penggunaan bahasa tulisan, gambar
-
Peningkatan bahasa lisan
Komunikasi : kemampuan penerimaan.
· Kemampuan
interprestasi meningkat
|
Mendengar aktif:
-
Kaji kemampuan berkomunikasi
-
Jelaskan tujuan interaksi
-
Perhatikan tanda nonverbal klien
-
Klarifikasi pesan bertanya dan feedback
-
Hindari barrier atau halangan komunikasi
Peningkatan komunikasi: Defisit bicara
-
Libatkan keluarga utk memahami pesan klien
-
Sediakan petunjuk sederhana
-
Perhatikan bicara klien dg cermat
-
Gunakan kata sederhana dan pendek
-
Berdiri di depan klien saat bicara, gunakan isyarat
tangan.
-
Beri reinforcement positif
-
Dorong keluarga utk selalu mengajak komunikasi denga
klien
|
|
5
|
Sindrom defisit self-care: b.d kelemahan, gangguan
neuromuskuler, kerusakan mobilitas fisik
|
Setelah dilakukan askep … jam, self-care optimal dg
kriteria :
-
Mandi teratur.
-
Kebersihan badan terjaga
-
kebutuhan sehari-hari (ADL) terpenuhi
|
Self-care assistant.
-
Kaji kemampuan klien dalam pemenuhan kebutuhan
sehari – hari
-
Sediakan kebutuhan yang diperlukan untuk ADL
-
Bantu ADL sampai mampu mandiri
-
Latih klien untuk mandiri jika memungkinkan.
-
Anjurkan, latih dan libatkan keluarga untuk membantu
memenuhi kebutuhan klien sehari-hari
-
Berikan reinforcement positif atas usaha yang telah
dilakukan klien.
|
|
6
|
Risiko infeksi b.d imunitas tubuh primer menurun,
prosedur invasif
|
Setelah dilakukan askep … jam tidak terdapat faktor
risiko infeksi pada klien dengan KH:
-
Tidak ada tanda-tanda infeksi
-
Status imune klien adekuat
-
V/S dbn,
-
AL dbn
|
Konrol infeksi :
-
Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
-
Pertahankan teknik isolasi.
-
Batasi pengunjung bila perlu.
-
Intruksikan kepada keluarga untuk mencuci tangan
saat kontak dan sesudahnya.
-
Gunakan sabun anti miroba untuk mencuci tangan
-
Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan.
-
Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat
pelindung.
-
Pertahankan lingkungan yang aseptik selama
pemasangan alat.
-
Lakukan dresing infus, DC setiap hari.
-
Tingkatkan intake nutrisi dan cairan
-
Berikan antibiotik sesuai program.
Proteksi terhadap infeksi
-
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
-
Monitor hitung granulosit dan WBC.
-
Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
-
Pertahankan teknik isolasi bila perlu.
-
Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan,
panas.
-
Dorong istirahat yang cukup.
-
Monitor perubahan tingkat energi.
-
Dorong peningkatan mobilitas dan latihan.
-
Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai
program.
-
Ajarkan keluarga atau klien tentang tanda dan gejala
infeksi.
-
Laporkan kecurigaan infeksi.
|
|
7
|
Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit dan
perawatannya b/d kurang paparan dan keterbatasan kognitif
|
Setelah dilakukan askep … jam pengetahuan keluarga
klien meningkat dg KH:
-
Keluarga menjelaskan tentang
penyakit, perlunya pengobatan
dan memahami perawatan
-
Keluarga kooperativedan mau kerjasama saat dilakukan
tindakan
|
Mengajarkan proses penyakit
-
Kaji pengetahuan keluarga tentang proses penyakit
-
Jelaskan tentang patofisiologi penyakit dan tanda
gejala penyakit
-
Beri gambaran tentaang tanda gejala penyakit kalau
memungkinkan
-
Identifikasi penyebab penyakit
-
Berikan informasi pada keluarga tentang keadaan
pasien, komplikasi penyakit.
-
Diskusikan tentang pilihan therapy pada keluarga dan
rasional therapy yang diberikan.
-
Berikan dukungan pada keluarga untuk memilih atau
mendapatkan pengobatan lain yang lebih baik.
-
Jelaskan pada keluarga tentang persiapan atau
tindakan yang akan dilakukan
|
|
8
|
Gangguan eliminasi BAB berhubungan dengan imobil
|
Setelah dilakukan askep .. .jam pasien tdk mengalami
konstipasi dg KH:
-
Pasien mampu BAB lembek tanpa kesulitan
|
Konstipation atau impaction management
-
Monitor tanda dan gejala konstipasi
-
Monitor pergerakan usus, frekuensi,
konsistensi
-
Identifikasi diet penyebab konstipasi
-
Anjurkan pada pasien untuk makan buah-buahan dan
makanan berserat tinggi
-
Mobilisasi bertahab
-
Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake makanan
dan cairan
-
Evaluasi intake makanan dan minuman
-
Kolaborasi medis untuk pemberian laksan kalau perlu
|
|
9
|
Gangguan menelan berhubungan dengan kerusakan
neuromuskuler otot menelan
|
sete lah dilakukan askep … jam status menelan
pasien dapat berfungsi
|
Mewasdai aspirasi
-
Monitor tingkat kesadaran
-
Monitor status paru-paru
-
Monitor jalan nafas
-
Posisikan 30-400
-
Berikan makan atau NGT jika memungkinkan
-
Hindari memberikan makan peroral jika terjadi
penurunan kesadaran
-
Siapkan peralatan suksion k/p
-
Tawarkan makanan atau cairan yang dapat dibentuk
menjadi bolus sebelum ditelan
-
otong makanan kecil-kecil
-
erus obat sebelum diberikan
-
Atur posisi kepala 30-450 setelah makan
Terapi menelan
-
Kolaborasi dengan tim dalam merencanakan
rehabilitasi klien
-
Berikan privasi
-
Hindari menggunakan sedotan minum
-
Instruksikan klien membuka dan menutup mulut untuk
persiapan memasukkan makanan
-
Monitor tanda dan gejala aspirasi
-
Ajarkan klien dan keluarga cara memberikan makanan
-
Monitor BB
-
Berikan perawatan mulut
-
Monitor hidrasi tubuh
-
Bantu untuk mempertahankan intake kalori dan cairan
-
Cek mulut adakah sisa makanan
-
Berikan makanan yang lunak.
|
|
10
|
Risiko trauma atau injuri berhubungan dengan
penurunan kesadaran
|
Setelah dilakukan askep … jam terjadi peningkatan
Status keselamatan Injuri fisik Dg KH :
-
Klien dalam posisi yang aman dan bebas dari injuri
-
Klien tidak jatuh
|
Manajemen kejang
-
monitor posisi tidur klien
-
Pertahankan kepatenan jalan nafas
-
Beri oksigen
-
Monitor status neurologi
-
Monitor vital sign
-
Catat lama dan karakteristik kejang (posisi tubuh,
aktifitas motorik, prosesi kejang)
-
Kelola medikasi sesuai order
Manajemen lingkungan
-
Identifikasi kebutuhan keamanan klien
-
Jauhkan benda yang membahayakan klien
-
Pasang bed plang
-
Sediakan ruang khusus
-
Berikan lingkungan tenang
-
Batasi pengunjung
-
Anjurkan pada keluarga untuk menunggu atau berada
dekat klien
|
Tujuan :
Mempertahankan perfusi jaringan serebral adekuat
Kriteria Evaluasi :
a) Mempertahankan
tingkat kesadaran
b) TTV stabil
c) Tidak ada
peningkatan TIK
Intervensi :
a) Pantau ataupun catat
status neuroligis
b) Pantau TTV
c) Evaluasi pupil,
catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya
d) Letakan kepala
dengan posisi agak ditinggikan
e) Pertahankan keadaan
tirah baring
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan
dengan kerusakan neuromoskuler, kelemahan, paralisis
Tujuan : Mampu mepertahankan
kekuatan otot
Kriteria Evaluasi :
a) Mempertahankan ataupun meningkatkan
kekuatan dan fungsi bagian yang terkena atau kompensasi.
b) Mendemonstrasikan teknik atau perilaku
yang memungkinkan melakukan aktifitas
c)
Mempertahankan integritas kulit
Intervensi :
a)
Kaji kemampuan klien secara fungsional
b)
Ubah posisi minimal setiap 2 jam
c) Mulailah melakukan latihan rentang gerak
aktif dan pasif pada semua ekstremitas
d)
Tinggikan kepala dan tangan
e) Anjurkan untuk membantu pergerakan dan
latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan disfagia, kesulitan menelan dan menurunnya nafsu
makan.
Tujuan : Klien akan mempertahankan status
nutrisi, pemasukan cairan dan keseimbangan cairan.
Kriteria evaluasi :
a)
Berat badannya kurang lebih 10 % dari berat badan ideal
b) Mentoleransi terhadap nutrisi parenteral,
makanan cair dengan residu minimal, tidak diare, elektrolit seimbang
c)
Menelan makanan yang lunak tanpa aspirasi
Intervensi :
a)
Observasi kemampuan menelan, fungsi sensorik dan motorik
b)
Monitor pemasukan dan pengeluaran serta pemasukan diet
c)
Berikan makanan nasogastrik dan minum
d)
Bantu makanan oral bila ada indikasi
e)
Observasi makanan yang disukai dan tidak disukai
f) Ukur
berat badan
g)
Konsultasi ke ahli gizi
4. Gangguan integritas kulit berhubungan
dengan perubahan sensorik, immobilisasi, inkontinensia, perubahan status
nutrisi.
Tujuan : klien
akan mempertahankan integritas kulit, tonus,turgor dan sirkulasi
Kriteria evaluasi :
a)
Memiliki kulit yang utuh
b)
Bebas dari kemerahan pada tulang yang menonjol
Intervensi :
a) Observasi keutuhan kulit klien,
perubahan warna, temperatur, dan adanya edema setiap 4 jam dan sebagaiman
kebutuhan
b)
Pertahankan kebersihan kulit dan kekeringan
c)
Tingkatkan sirkulasi dengan sering mungkin melakukan alih posisi, massase
d)
Gunakan alat-alat untuk mencegah penekanan
5. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan
dengan kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskuler, kehilangan tonus
atau kekuatan otot, kelemahan / kelelahan umum
Tujuan : Mampu
menciptakan metode komunikasi yang dapat dipahami
Kriteria Evaluasi :
a)
Mengidentifikasi pemahaman tentang masalah komunikasi
b)
Membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan
c)
Menggunakan sumber-sumber dengan tepat
Intervensi :
a)
Kaji tipe atau derajat disfungsi
b)
Berikan metode komunikasi alternatif seperti menulis dan gambar
c)
Bicaralah dengan normal dan hindari percakapan yang cepat
6. Perubahan persepsi sensori berhubungan
dengan perubahan persepsi sensori, transmisi, integritas, stress, psikologis
Tujuan :
Mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi perseptual
Kriteria Evaluasi :
a)
Mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residual
b) Mendemonstrasikan perilaku
untuk mengkompensasikan terhadap/defisit hasil
Intervensi :
a)
Kaji keadaan klien
b)
Ciptakan lingkungan yang sederhana
c)
Berikan stimulus terhadap rasa sentuhan
d)
Observasi respon perilaku pasien
e)
Bicara dengan tenang, perlahan dan pertahankan kontak mata.
7. Kurang perawatan diri berhubungan dengan
kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan kerusakan kognitif,
nyeri, depresi
Tujuan :
Perawatan diri terpenuhi
Kriteria Evaluasi :
a)
Mendemonstrasikan teknik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri
b)
Melakukan aktifitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri
Intervensi :
a) Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan
untuk melakukan kebutuhan sehari – hari
b)
Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan sendiri
c)
Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan
8. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan
pengobatan berhubungan dengan keterbatasan pengetahuan, tidak mengenal
sumber-sumber informasi
Tujuan :
Pengetahuan meningkat
Kriteria Evaluasi :
a)
Berpartisipasi dalam proses belajar
b) Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi
atau prognosis dan aturan terapuetik
Intervensi :
a)
Tinjau ulang atau pertegas kembali pengobatan yang diberikan
b)
Identifikasi cara meneruskan program setelah pulang
c)
Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan kontrol secara medis.
G. Pelaksanaan
Setelah perencanaan keperawatan disusun berdasarkan diagnosa
keperawatan yang prioritas maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan
tindakan keperawatan. Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan dan merupakan
tindakan yang bermanfaat bagi klien berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan
tujuan yang telah ditetapkan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan klien
secara optimal. Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat berupa
tindakan mandiri maupun tindakan kolaborasi. Terkait dengan masalah yang ada
pada pasien stroke, maka pelaksanaan tindakan keperawatan ditujukan pada klien,
perawat dan keluarga. Pelaksanaan pada klien meliputi melakukan, membantu,
mengarahkan kebutuhan dan aktivitas kehidupan sehari-hari kilen yang
disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi klien pada saat itu. Pada perawat
ditujukan untuk memberikan arahan dalam melakukan tindakan keperawatan yang
berpusat pada klien sehingga tujuan dapat tercapai. Pada keluarga ditujukan
untuk memahami kebutuhan klien dan memotivasi klien untuk mempertahankan dan
meningkatkan status kesehatannya.
Dalam pelaksanaan tindakan, langkah yang dilakukan pertama kali adalah
mengkaji kembali keadaan klien untuk menentukan apakan tindakan
keperawatan yang direncanakan masih sesuai kondisi klien saat itu, memvalidasi
rencana keperawatan untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang
direncanakan masih dilanjutkan atau dimodifikasi sesuai keadaan klien saat itu,
menentukan kebutuhan dan bantuan yang diberikan pada klien baik dalam bentuk
pengetahuan maupun keterampilan keperawatan serta menetapkan strategi tindakan
yang akan dilakukan dan mengkomunikasikan intervensi keperawatan, selain
itu juga dalam pelaksanaan tindakan keperawatan didokumentasikan dalam catatan
keperawatan. Dalam pendokumentasian catatan keperawatan hal yang perlu
didokumentasikan adalah waktu tindakan dilakukan, tindakan dan respon klien
serta diberi tanda tangan sebagai aspek legal dari dokumentasi yang dilakukan.
H. Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan maka perlu dilakukan kaji ulang
terhadap asuhan keperawatan yang diberikan apakah masalah yang muncul pada
klien dapat teratasi secara maksimal atau tidak untuk itu perlu dilakukan
evaluasi. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang mengukur
seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai berdasarkan standar
atau kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi merupakan aspek penting di dalam
proses keperawatan, karena menghasilkan kesimpulan apakah intervensi
keperawatan diakhiri atau ditinjau kembali atau dimodifikasi. Prinsip evaluasi
adalah obyektivitas yaitu mengukur keadaan yang sebenarnya, reabilitas yaitu
ketepatan hasil ukuran dan validitas yaitu mengukur dengan tepat harus dapat
dipertahankan agar keputusan yang diambil tepat.
Adapun langkah-langkah evaluasi keperawatan terdiri dari, mengumpulkan
data keperawatan pasien, menafsirkan (mengiterprestasikan) perkembangan pasien,
membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan
menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah di tetapkan, mengukur dan
membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku.
Evaluasi proses keperawatan terdiri dari evaluasi kwantitatif yaitu penilaian
yang dilihat dari jumblah kegiatan. Evaluasi kwalitatif yaitu evaluasi
mutu yang difokuskan pada tiga dimensi yang saling terkait. Evaluasi struktur /
sumber yaitu terkait dengan tenaga manusia / bahan-bahan yang diperlukan dalam
pelaksanan kegiatan. Evaluasi proses (evaluasi formatif) yaitu pernyataan yang
mencerminkan pengalaman perawatan dan analisa respon pasien segera setelah
intervensi. Evaluasi hasil (evaluasi sumatif) yaitu pernyataan yang
mencerminkan suatu observasi untuk menilai sejauh mana pencapaian tujuan
berdasarkan kriteria yang ditetapkan.
Daftar Pustaka
- Maharmarjuna, DR. Prof ; Neurologi Klinik Dasar.
- Kapita Selekta Kedokteran Bagian llmu Penyakit Syaraf : Media Aesculapius; Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2000.
- Prof. DR.dr. S.M. Lumbantobing : Stroke Bencana Peredaran Darah di Otak : Fakultas Keodkteran Universitas Indonesia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar