Translate

Minggu, 08 September 2013

Pasien Dengan Generalized Tetanus (Tetanus umum)



MAKALAH
Seven Jump Kasus 2
Generalized Tetanus (Tetanus umum)



                                                


Disusun oleh kelompok 1:


Crisma Ardhi Prayoga D                                ( A6.12.06)
Desi Natalia Br. Panggabean                          ( A6.12.08)
Diana Lia Puspita S                                        ( A6.12.11)
Ferika Wahyu N                                              ( A6.12.16)
Leonardo Ricky Perdana                                ( A6.12.24)
Raffles Kezia Wardani                                   ( A6.12.26)
Silvi Nandalia Tami                                        ( A6.12.30)
Supriyo Setyadi Laksono                                ( A6.12.33)





SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS.BAPTIS KEDIRI
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2013/2014





Kata Pengantar






Kami ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang mana atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tantang kasus sistem Neurobehavior yang berhubungan dengan Pasien penderita Generalized Tetanus (Tetanus umum)dapat diselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.    Dosen pengampu.
2.    Pihak pustakawan yang telah memberi kesempatan untuk meminjam buku sebagai bahan materi.
3.    Teman-teman S1 tingkat 2 yang telah memberi masukan.
 yang semuanya telah memberikan bimbingan serta dukungan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih belum sempurna. Untuk itu, kami berharap kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Akhir kata kami mengharapkan makalah ini dapat diterima dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Kediri, 08 September 2013


Penyusun


Daftar Isi




Kata Pengantar.........................................................................................i
Daftar Isi...................................................................................................ii
BAB I

Pembahasan
2.1 Step 1....................................................................................................1
2.2  Step 2....................................................................................................2
2.3  Step 3....................................................................................................3
2.4  Step 4....................................................................................................4
2.5  Step 5....................................................................................................5
2.6  Step 6....................................................................................................6
BAB II
Penutup
3.1  Kesimpulan..........................................................................................14
Daftar Pustaka..........................................................................................15





BAB I
Kasus 2


Laki-laki setengah baya datang ke UGD RS swasta di antar keluarganya dalam kondisi seluruh tubuh kaku. Mulut tertutup rapat tidak bisa dibuka, hasil anamnesa perawat di dapatkan istrinya mengatakan satu minggu yang lalu waktu bekerja di sawah kaki pasien terkena paku berkarat, masuk ke telapak kaki kurang lebih 3 cm. Waktu kejadian tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri. Paku tersebut di cabut dan kaki di beri bethadin saja. Sehari kemudian badan pasien panas dan mulai tiga hari ini tidak mau makan dan sulit minum. Badan kaku dan mulut tidak bisa di buka mulai kemarin. Dari pemeriksaan fisik di dapatkan kesadaran apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, S = 400C. Terdapat trismus, kadang terjadi kejang generalisata. Perawat menemukan adanya port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam keluar pus.
Step 1
1.      Bethadin adalah obat anti septik
2.      Apatis adalah kesadaran menurun
3.      Trismus adalah gejala utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter
4.      Kejang generalisata adalah gangguan sistem SSP lokal atau sistemik sehingga kejang bukan merupakan suatu penyakit
5.      Port d’entri adalah luka tusuk dalam, furunkulosis, cabut gigi, embedded splinter, ulkus dekubiti, tusukan jarum tidak steril, fraktura komplikata yang menjadi supuratif
6.      Pus adalah nanah yang keluar akibat dari infeksi
Step 2
1.      Kondisi tubuh kaku, mulut tertutup rapat dan tidak bisa di buka.
2.      Terdapat trismus, kadang terjadi kejang generalisata.
3.      Pasien panas selama 3 hari, tidak mau makan dan minum.
4.      Terdapat port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam dan keluar pus.
5.      Kesadaran apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, dan S = 400C.
6.      Terkena paku berkarat lebih dari 3 cm, tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri
Step 3
1.      Kondisi tubuh kaku, mulut tertutup rapat dan tidak bisa di buka.
a.       Mengapa bisa terjadi hal sedemikian?
b.      Bagaimana dampaknya bila tidak segera di tangani?
c.       Apakah dapat terjadi komplikasi?
2.      Terdapat trismus, kadang terjadi kejang generalisata.
a.       Apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi?
b.      Apa yang akan terjadi jika hal tersebut berkelanjutan?
3.      Terkena paku berkarat lebih dari 3 cm, tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri.
a.       Mengapa hal itu bisa terjadi?
b.      Bagaiman peran perawat dalam menyikapi hal tersebut?
4.      Pasien panas selama 3 hari, tidak mau makan dan minum.
a.       Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
b.      Bagaimana dampak yang di timbulkan?
5.      Terdapat port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam dan keluar pus.
a.       Apa yang menyebabkan adanya port d’entri pada kaki kanan pasien?
b.      Apa yang menyebabkan keluarnya pus?
6.      Kesadaran apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, dan S = 400C.
a.       Apa yang tidak normal dari hasil pemeriksaan tersebut?
b.      Apa yang dapat di simpulkan dari hasil pemeriksaan tersebut?
Step 4
1.      Kondisi tubuh kaku, mulut tertutup rapat dan tidak bisa di buka.
a.       Karena terjadi infeksi tetanus yang menyebabkan kekakuan sendi rahang.
b.      Dampak yang akan terjadi yaitu infeksi akan menjadi lebih parah dan dapat menyebabkan kematian.
d.      Dapat. Karena bisa terkena hipovolemik.


2.      Terdapat trismus, kadang terjadi kejang generalisata.
a.       Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam. Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan.
b.      Pasien mengalami kesulitan dalam proses menelan dan mengganggu pergerakan daerah yang mengalami trismus.
3.      Terkena paku berkarat lebih dari 3 cm, tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri.
a.       Karena faktor ketidaktahuan pasien dan keluarga tentang pengobatan dan perawatan luka.
b.      Peran perawat dalam menyikapi hal tersebut yaitu memberikan pengetahuan tentang cara mengobati dan merawat luka melalui health education.
4.      Pasien panas selama 3 hari, tidak mau makan dan minum.
a.       Panasnya terjadi karena terkena infeksi, sedangkan dia tidak mau makan dan minum karena mulutnya kaku dan tidak dapat di buka.
b.      Badan menjadi lemas, letih, lesu, lunglai, hipovolemik, apatis, dan lain-lain.
5.      Terdapat port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam dan keluar pus.
a.       Penyakit ini sebenarnyamerupakan manifestasidari rendahnya daya tahantubuh seseorang akibatadanya peningkatan kumanpatogen seperti bakteri,virus, jamur maupun bendaasing lainnya
b.      Akibat leukosit yang mati saat melawan mikroorganisme dan di keluarkan melalui jaringan tersebut.
6.      Kesadaran apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, dan S = 400C.
a.       Kesadarannya menurun, TD terlalu rendah, Pulse dan RR terlalu cepat, dan S terlalu tinggi.
b.      Pasien mengalami hipovolemik dan infeksi.




















Step 5
HIPOTESIS AWAL
Pasien menderita Generalized Tetanus (Tetanus umum)


Step 6
1.      Pengertian Tetanus
Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang. Disebut juga lockjaw karena terjadi kejang pada otot rahang.Penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostridium tetani, bermanifestasi dengan kejang otot secara paroksisimal dan diikuti oleh kekakuan otot seluruh badan, khususnya otot-otot massester dan otot rangka.
2.      Etiologi
Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani. Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian, namun juga dapat ditemukan pada besi berkarat, ujung jarum/peniti yang tidak steril. Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.
Pada bayi yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada bayi.
Kuman tetanus ini dapat menyerang manusia maupun hewan. Kuman dapat masuk melalui luka, baik luka dangkal maupun luka besar. Terdapat beberapa korban yang terinfeksi tetanus akibat membersihkan gigi menggunakan jarum atau peniti yang terkontaminasi kuman.
3.      Tanda dan gejala
Secara umum tanda dan gejala yang akan muncul:
1)      Spasme dan kaku otot rahang (massester) menyebabkan kesukaran membuka mulut (trismus)
2)      Pembengkakan, rasa sakit dan kaku dari berbagai otot:
a.       Otot leher
b.      Otot dada
c.       Merambat ke otot perut
d.      Otot lengan dan paha
e.       Otot punggung, seringnya epistotonus
f.       Tetanik seizures (nyeri, kontraksi otot yang kuat)
g.      Iritabilitas
h.      Demam
Gejala penyerta lainnya:
a.       Keringat berlebihan
b.      Sakit menelan
c.       Spasme tangan dan kaki
d.      Produksi air liur
e.       BAB dan BAK tidak terkontrol
f.       Terganggunya pernapasan karena otot laring terserang
4.      Manifestasi klinik
Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau beberapa minggu). Ada empat bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni:
1)      Localited tetanus ( Tetanus Lokal)
Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap.
Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini dijumpai sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin.
2)      Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar 1 –2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India), luka pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung.
3)      Generalized Tetanus (Tetanus umum)
Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam. Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus ( kekakuan otot punggung), kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan retensi urine,kompressi frak tur dan pendarahan didalam otot. Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C. Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis.
4)      Neonatal Tetanus
Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani, maupun penggunaan obat-obatan Wltuk tali pusat yang telah terkontaminasi.
Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan dan obat tradisional yang tidak steril, merupakan faktor yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus.
5.      Karakteristik dari tetanus:
a.       Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan menetap selama 5 -7 hari.
b.      Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya
c.       Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
d.      Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama pada rahang dari leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut (trismus, lockjaw) karena spasme otot masetter.
e.       Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk (opistotonus, nuchal rigidity)
f.        Risus sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas, sudut mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .
g.      Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan opistotonus, tungkai dengan eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya kesadaran tetap baik.
h.      Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi asfiksia dan sianosis, retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna vertebralis (pada anak).
6.      Derajat Tetanus
1)      Derajat I  (tetanus ringan)
a.         Trismus (lebar antar gigi sama atau lebih 2 cm)
b.      Kekakuan umum
c.       Tidak dijumpai kejang
d.      Tidak dijumpai gangguan respiras
2)        Derajat II (tetanus sedang)
a.       Trismus (lebar kurang dari 1 cm)
b.       Kekakuan umum makin jelas
c.       Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan
3)      Derajat III a (tetanus berat)
a.       Trismus berat (kedua baris gigi rapat)
b.      Otot sangat spastis, timbul kejang spontan
c.       Takipnea, takikardia
d.      Apneic spell (spasme laryng)
4)      Derajat III (tetanus dengan gangguan saraf otonom)
a.        Gangguan otonom berat
b.        Hipertensi berat dan takikardi, atau
c.       Hipotensi dan bradikardi
d.       Hipertensi berat atau hipotensi berat





7.      Diagnosis
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa:
a.       Gejala klinik: Kejang tetanik, trismus, disphagia, risus sardonicus (sardonic smile).
b.       Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan.
c.       Kultur: Clostridium tetani (+).
d.        Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.
8.      Penatalaksanaan
Terapi dasar tetanus:
1)      Antibiotik diberikan selama 10 hari, 2 minggu bila ada komplikasi
a.       Penisillin prokain 50.000 IU/kg BB/kali i.m, tiap 12 jam, atau
b.      Metronidazol loading dose 15 mg/kg BB/jam, selanjutnya 7,5 mg/kg BB tiap 6 jam
Catatan : Bila ada sepsis/pneumonia dapat ditambahkan antibiotika yang sesuai.
2)      Imunisasi aktif-pasif
a.       Anti tetanus serum (ATS) 5.000-10.000 IU, diberikan intramuskular. Untuk neonatus bisa diberikan iv; apabila tersedia dapat diberikan Human tetanus immunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU i.m.
b.       Dilakukan imunisasi DT/TT/DTP pada sisi yang lain, pada saat bersamaan.
3)      Merawat dan membersihkan luka
Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan peredaran toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pernafasan sampai pulih. Dan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa: membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan nekrotik),membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202 ,dalam hal ini penatalaksanaan terhadap luka tersebut dilakukan 1 -2 jam setelah pemberian ATS dan Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
4)      Anti konvulsi
Pada dasarnya kejang diatasi dengan diazepam, dosis disesuaikan dengan respon klinik (titrasi) :
 Bila datang dengan kejang diberi diazepam :
a.       neonatus bolus 5 mg iv
b.       anak bolus 10 mg iv
Dosis rumatan maximal :
a.       anak 240 mg/hari
b.      neonatus 120 mg/hari
Bila dengan dosis 240 mg/hari masih kejang (tetanus sangat berat), harus dilanjutkan dengan  bantuan ventilasi mekanik, dosis diazepam dapat ditingkatkan sampai 480 mg/hari, dengan atau tanpa kurarisasi.
Diazepam sebaiknya diberikan dengan syringe pump, jangan dicampur dalam botol cairan infus. Bilamana tidak ada syringe pump, diberikan bolus tiap 2 jam (12 x/hari)
a.       Dapat dipertimbangkan penggunaan anti konvulsan lain, seperti magnesium sulfat, bilamana ada gangguan saraf otonom.


5)      Terapi suportif
a.       Bebaskan jalan nafas
1)      Hindarkan aspirasi dengan menghisap lendir perlahan-lahan & memindah-mindahkan posisi pasien)
2)      Pemberian oksigen
3)      Perawatan dengan stimulasi minimal
4)      Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila perlu dapat dipasang sonde nasogastrik, asal tidak memperkuat kejang
5)      Bantuan nafas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum
6)       Pemantauan/monitoring kejang dan tanda penyulit

6)      Penatalaksanaan tetanus sesuai dengan derajat tetanus:
1.      Tetanus ringan (Derajat I):
a.       Diberikan terapi dasar tetanus
2.      Tetanus sedang (Derajat II):
a.       Terapi dasar tetanus
b.      Perhatian khusus pada keadaan jalan nafas (akibat kejang dan aspirasi)
c.       Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara parenteral.
3.      Tetanus berat/sangat berat (Derajat III a / III b)
a.       Terapi dasar seperti di atas
b.      Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi atau tracheostomi
c.       Balans cairan dimonitor secara ketat.
d.      Apabila spasme sangat hebat (tetanus  berat), perlu ventilasi mekanik dengan pankuronium bromida 0,02 mg/kg bb intravena, diikuti 0,05 mg/kg bb/kali, diberikan tiap 2-3 jam.
e.       Apabila terjadi aktifitas simpatis yang berlebihan, berikan b-blocker seperti propanolol/a dan b- blocker labetalol.

9.      Prognosis
Prognosis tetanus diklassikasikan dari tingkat keganasannya, dimana:
1)             Ringan (Derajat I); bila tidak adanya kejang umum ( generalized spasm )
2)             Sedang (Derajat II); bila sekali muncul kejang umum
3)             Berat (Derajat III); bila kejang umum yang berat sering terjadi.
Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa lebih pendek atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung pada lamanya masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin jelek. Case Fatality Rate (CFR) tetanus berkisar 44-55%, sedangkan tetanus neonatorum > 60%.
10.          Pencegahan
Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih baik daripada mengobatinya.
1)                      Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus).
2)                      Dewasa sebaiknya menerima booster
3)                      Pada seseorang yang memiliki luka, jika:
a.Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
b.Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi
c.Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.
4)                      Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.

















BAB II
Penutup


3.1 Kesimpulan

Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium tetani. Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian, namun juga dapat ditemukan pada besi berkarat, ujung jarum atau peniti yang tidak steril. Yang menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh bakteri, bukan bakterinya.

Pada bayi yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru lahir disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada bayi.

Kuman tetanus ini dapat menyerang manusia maupun hewan. Kuman dapat masuk melalui luka, baik luka dangkal maupun luka besar. Terdapat beberapa korban yang terinfeksi tetanus akibat membersihkan gigi menggunakan jarum atau peniti yang terkontaminasi kuman.



DhinTea:)

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar