MAKALAH
Seven
Jump Kasus 2
Generalized
Tetanus (Tetanus umum)
Disusun
oleh kelompok 1:
Crisma
Ardhi Prayoga D (
A6.12.06)
Desi
Natalia Br. Panggabean (
A6.12.08)
Diana
Lia Puspita S (
A6.12.11)
Ferika
Wahyu N ( A6.12.16)
Leonardo
Ricky Perdana (
A6.12.24)
Raffles
Kezia Wardani ( A6.12.26)
Silvi
Nandalia Tami ( A6.12.30)
Supriyo
Setyadi Laksono ( A6.12.33)
SEKOLAH
TINGGI
ILMU KESEHATAN
RS.BAPTIS KEDIRI
PRODI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AJARAN 2013/2014
Kata Pengantar
Kami ucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang mana atas
berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tantang kasus
sistem Neurobehavior yang berhubungan dengan Pasien penderita Generalized
Tetanus (Tetanus umum)dapat diselesaikan dengan baik.
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih
kepada:
1. Dosen pengampu.
2. Pihak pustakawan yang telah memberi
kesempatan untuk meminjam buku sebagai bahan materi.
3. Teman-teman S1 tingkat 2 yang telah
memberi masukan.
yang semuanya telah memberikan
bimbingan serta dukungan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih belum sempurna. Untuk itu, kami
berharap kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan di masa yang
akan datang.
Akhir kata kami mengharapkan makalah ini dapat diterima dan
bermanfaat bagi banyak pihak.
Kediri, 08 September 2013
Penyusun
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar.........................................................................................i
Daftar Isi...................................................................................................ii
BAB I
Pembahasan
2.1 Step 1....................................................................................................1
2.2 Step 2....................................................................................................2
2.3 Step 3....................................................................................................3
2.4 Step 4....................................................................................................4
2.5 Step 5....................................................................................................5
2.6 Step 6....................................................................................................6
BAB II
Penutup
3.1 Kesimpulan..........................................................................................14
Daftar Pustaka..........................................................................................15
BAB
I
Kasus
2
Laki-laki
setengah baya datang ke UGD RS swasta di antar keluarganya dalam kondisi
seluruh tubuh kaku. Mulut tertutup rapat tidak bisa dibuka, hasil anamnesa
perawat di dapatkan istrinya mengatakan satu minggu yang lalu waktu bekerja di
sawah kaki pasien terkena paku berkarat, masuk ke telapak kaki kurang lebih 3
cm. Waktu kejadian tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri. Paku tersebut
di cabut dan kaki di beri bethadin saja. Sehari kemudian badan pasien panas dan
mulai tiga hari ini tidak mau makan dan sulit minum. Badan kaku dan mulut tidak
bisa di buka mulai kemarin. Dari pemeriksaan fisik di dapatkan kesadaran
apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, S = 400C.
Terdapat trismus, kadang terjadi kejang generalisata. Perawat menemukan adanya
port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam keluar pus.
Step 1
1. Bethadin
adalah obat anti septik
2. Apatis
adalah kesadaran menurun
3. Trismus
adalah gejala utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan oleh kekakuan
otot-otot masseter
4. Kejang
generalisata adalah gangguan
sistem SSP lokal atau sistemik sehingga kejang bukan merupakan suatu penyakit
5. Port
d’entri adalah luka tusuk dalam,
furunkulosis, cabut gigi, embedded splinter, ulkus dekubiti, tusukan jarum
tidak steril, fraktura komplikata yang menjadi supuratif
6. Pus
adalah nanah yang keluar akibat dari infeksi
Step 2
1. Kondisi
tubuh kaku, mulut tertutup rapat dan tidak bisa di buka.
2. Terdapat
trismus, kadang terjadi kejang generalisata.
3. Pasien
panas selama 3 hari, tidak mau makan dan minum.
4. Terdapat
port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam dan keluar pus.
5. Kesadaran
apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, dan S = 400C.
6. Terkena
paku berkarat lebih dari 3 cm, tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri
Step 3
1. Kondisi
tubuh kaku, mulut tertutup rapat dan tidak bisa di buka.
a. Mengapa
bisa terjadi hal sedemikian?
b. Bagaimana
dampaknya bila tidak segera di tangani?
c. Apakah
dapat terjadi komplikasi?
2. Terdapat
trismus, kadang terjadi kejang generalisata.
a. Apa
yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi?
b. Apa
yang akan terjadi jika hal tersebut berkelanjutan?
3. Terkena
paku berkarat lebih dari 3 cm, tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri.
a. Mengapa
hal itu bisa terjadi?
b. Bagaiman
peran perawat dalam menyikapi hal tersebut?
4. Pasien
panas selama 3 hari, tidak mau makan dan minum.
a. Apa
yang menyebabkan hal tersebut terjadi?
b. Bagaimana
dampak yang di timbulkan?
5. Terdapat
port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam dan keluar pus.
a. Apa
yang menyebabkan adanya port d’entri pada kaki kanan pasien?
b. Apa
yang menyebabkan keluarnya pus?
6. Kesadaran
apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, dan S = 400C.
a. Apa
yang tidak normal dari hasil pemeriksaan tersebut?
b. Apa
yang dapat di simpulkan dari hasil pemeriksaan tersebut?
Step 4
1. Kondisi
tubuh kaku, mulut tertutup rapat dan tidak bisa di buka.
a. Karena
terjadi infeksi tetanus yang menyebabkan kekakuan sendi rahang.
b. Dampak
yang akan terjadi yaitu infeksi akan menjadi lebih parah dan dapat menyebabkan
kematian.
d. Dapat.
Karena bisa terkena hipovolemik.
2. Terdapat
trismus, kadang terjadi kejang generalisata.
a. Bentuk
ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak
dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam.
Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan
oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang
menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan.
b. Pasien
mengalami kesulitan dalam proses menelan dan mengganggu pergerakan daerah yang
mengalami trismus.
3. Terkena
paku berkarat lebih dari 3 cm, tidak di bawa ke RS tetapi di obati sendiri.
a. Karena
faktor ketidaktahuan pasien dan keluarga tentang pengobatan dan perawatan luka.
b. Peran
perawat dalam menyikapi hal tersebut yaitu memberikan pengetahuan tentang cara
mengobati dan merawat luka melalui health
education.
4. Pasien
panas selama 3 hari, tidak mau makan dan minum.
a. Panasnya
terjadi karena terkena infeksi, sedangkan dia tidak mau makan dan minum karena
mulutnya kaku dan tidak dapat di buka.
b. Badan
menjadi lemas, letih, lesu, lunglai, hipovolemik, apatis, dan lain-lain.
5. Terdapat
port d’entri di telapak kaki kanan berwarna hitam dan keluar pus.
a. Penyakit
ini sebenarnyamerupakan manifestasidari rendahnya daya tahantubuh seseorang
akibatadanya peningkatan kumanpatogen seperti bakteri,virus, jamur maupun
bendaasing lainnya
b. Akibat
leukosit yang mati saat melawan mikroorganisme dan di keluarkan melalui
jaringan tersebut.
6. Kesadaran
apatis, TTV; TD = 80/40 mmHg, P = 110 x/m, RR = 32 x/m, dan S = 400C.
a. Kesadarannya
menurun, TD terlalu rendah, Pulse dan RR terlalu cepat, dan S terlalu tinggi.
b. Pasien
mengalami hipovolemik dan infeksi.
Step 5
HIPOTESIS
AWAL
Pasien
menderita Generalized
Tetanus (Tetanus umum)

Step 6
1.
Pengertian
Tetanus
Kata tetanus
diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti menegang.
Disebut juga lockjaw karena terjadi kejang pada otot rahang.Penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin kuman clostridium tetani,
bermanifestasi dengan kejang otot secara paroksisimal dan diikuti oleh kekakuan
otot seluruh badan, khususnya otot-otot massester dan otot rangka.
2.
Etiologi
Tetanus
disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob, Clostridium
tetani. Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah,
kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian, namun juga dapat
ditemukan pada besi berkarat, ujung jarum/peniti yang tidak steril. Yang
menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh
bakteri, bukan bakterinya.
Pada bayi
yang baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak
dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru lahir
disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak
pada bayi.
Kuman
tetanus ini dapat menyerang manusia maupun hewan. Kuman dapat masuk melalui
luka, baik luka dangkal maupun luka besar. Terdapat beberapa korban yang
terinfeksi tetanus akibat membersihkan gigi menggunakan jarum atau peniti yang
terkontaminasi kuman.
3.
Tanda dan
gejala
Secara umum
tanda dan gejala yang akan muncul:
1)
Spasme dan kaku
otot rahang (massester) menyebabkan kesukaran membuka mulut (trismus)
2)
Pembengkakan,
rasa sakit dan kaku dari berbagai otot:
a.
Otot leher
b.
Otot dada
c.
Merambat ke
otot perut
d.
Otot lengan
dan paha
e.
Otot
punggung, seringnya epistotonus
f.
Tetanik
seizures (nyeri, kontraksi otot yang kuat)
g.
Iritabilitas
h.
Demam
Gejala penyerta lainnya:
a.
Keringat
berlebihan
b.
Sakit
menelan
c.
Spasme
tangan dan kaki
d.
Produksi air
liur
e.
BAB dan BAK
tidak terkontrol
f.
Terganggunya
pernapasan karena otot laring terserang
4.
Manifestasi
klinik
Masa
inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau
beberapa minggu). Ada empat bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni:
1)
Localited tetanus ( Tetanus Lokal)
Pada lokal tetanus dijumpai adanya
kontraksi otot yang persisten, pada daerah tempat dimana luka terjadi (agonis,
antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan tanda dari tetanus lokal.
Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan dalam beberapa bulan
tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap.
Lokal tetanus ini bisa berlanjut
menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk yang ringan dan jarang
menimbulkan kematian. Bisajuga lokal tetanus ini dijumpai sebagai prodromal
dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini terutama dijumpai
sesudah pemberian profilaksis antitoksin.
2)
Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang
jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar 1 –2 hari, yang berasal dari otitis
media kronik (seperti dilaporkan di India), luka pada daerah muka dan kepala,
termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung.
3)
Generalized Tetanus (Tetanus umum)
Bentuk ini yang paling banyak
dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang tidak dikenal beberapa tetanus
lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam. Trismus merupakan gejala
utama yang sering dijumpai (50 %), yang disebabkan oleh kekakuan otot-otot
masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang menyebabkan terjadinya kaku
kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa Risus Sardonicus (Sardonic
grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus ( kekakuan otot punggung),
kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot pernafasan bisa
menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi disuria dan
retensi urine,kompressi frak tur dan pendarahan didalam otot. Kenaikan
temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C. Bila
dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan dijumpai
takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya
berdasarkan gejala klinis.
4)
Neonatal Tetanus
Biasanya disebabkan infeksi C.
tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu proses pertolongan persalinan.
Spora yang masuk disebabkan oleh proses pertolongan persalinan yang tidak
steril, baik oleh penggunaan alat yang telah terkontaminasi spora C.tetani,
maupun penggunaan obat-obatan Wltuk tali pusat yang telah terkontaminasi.
Kebiasaan menggunakan alat
pertolongan persalinan dan obat tradisional yang tidak steril, merupakan faktor
yang utama dalam terjadinya neonatal tetanus.
5. Karakteristik dari tetanus:
a.
Kejang bertambah berat selama 3 hari pertama, dan
menetap selama 5 -7 hari.
b.
Setelah 10 hari kejang mulai berkurang frekwensinya
c.
Setelah 2 minggu kejang mulai hilang.
d.
Biasanya didahului dengan ketegangaan otot terutama
pada rahang dari leher. Kemudian timbul kesukaran membuka mulut (trismus,
lockjaw) karena spasme otot masetter.
e.
Kejang otot berlanjut ke kaku kuduk (opistotonus,
nuchal rigidity)
f.
Risus
sardonicus karena spasme otot muka dengan gambaran alis tertarik keatas, sudut
mulut tertarik keluar dan ke bawah, bibir tertekan kuat .
g.
Gambaran Umum yang khas berupa badan kaku dengan
opistotonus, tungkai dengan eksistensi, lengan kaku dengan mengepal, biasanya
kesadaran tetap baik.
h.
Karena kontraksi otot yang sangat kuat, dapat terjadi
asfiksia dan sianosis, retensi urin, bahkan dapat terjadi fraktur collumna
vertebralis (pada anak).
6.
Derajat Tetanus
1)
Derajat I (tetanus ringan)
a.
Trismus (lebar antar gigi sama atau lebih 2 cm)
b.
Kekakuan umum
c.
Tidak dijumpai kejang
d.
Tidak dijumpai gangguan respiras
2)
Derajat II (tetanus sedang)
a.
Trismus (lebar kurang dari 1 cm)
b.
Kekakuan umum
makin jelas
c.
Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan
3)
Derajat III a (tetanus berat)
a.
Trismus berat (kedua baris gigi rapat)
b.
Otot sangat spastis, timbul kejang spontan
c.
Takipnea, takikardia
d.
Apneic spell (spasme laryng)
4)
Derajat III (tetanus dengan gangguan saraf otonom)
a.
Gangguan otonom
berat
b.
Hipertensi berat dan takikardi, atau
c.
Hipotensi dan bradikardi
d.
Hipertensi
berat atau hipotensi berat
7.
Diagnosis
Diagnosis tetanus dapat diketahui
dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat, berupa:
a.
Gejala klinik: Kejang tetanik, trismus, disphagia, risus
sardonicus (sardonic smile).
b.
Adanya luka
yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan.
c.
Kultur: Clostridium tetani (+).
d.
Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai
myoglobinuria.
8.
Penatalaksanaan
Terapi dasar tetanus:
1)
Antibiotik diberikan selama 10 hari, 2 minggu bila ada
komplikasi
a.
Penisillin prokain 50.000 IU/kg BB/kali i.m, tiap 12
jam, atau
b.
Metronidazol loading dose 15 mg/kg BB/jam, selanjutnya
7,5 mg/kg BB tiap 6 jam
Catatan : Bila ada sepsis/pneumonia dapat ditambahkan antibiotika yang
sesuai.
2)
Imunisasi aktif-pasif
a.
Anti tetanus serum (ATS) 5.000-10.000 IU, diberikan
intramuskular. Untuk neonatus bisa diberikan iv; apabila tersedia dapat
diberikan Human tetanus immunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU i.m.
b.
Dilakukan
imunisasi DT/TT/DTP pada sisi yang lain, pada saat bersamaan.
3)
Merawat dan membersihkan luka
Tujuan terapi ini berupa
mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan peredaran toksin, mencegah spasme
otot dan memberikan bantuan pernafasan sampai pulih. Dan tujuan tersebut dapat
dilakukan dengan merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka (eksisi jaringan
nekrotik),membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H202 ,dalam hal
ini penatalaksanaan terhadap luka tersebut dilakukan 1 -2 jam setelah pemberian
ATS dan Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
4)
Anti konvulsi
Pada dasarnya kejang diatasi dengan
diazepam, dosis disesuaikan dengan respon klinik (titrasi) :
Bila datang dengan kejang diberi
diazepam :
a.
neonatus bolus 5 mg iv
b.
anak bolus 10
mg iv
Dosis rumatan maximal :
a.
anak 240 mg/hari
b.
neonatus 120 mg/hari
Bila dengan dosis 240 mg/hari masih
kejang (tetanus sangat berat), harus dilanjutkan dengan bantuan ventilasi
mekanik, dosis diazepam dapat ditingkatkan sampai 480 mg/hari, dengan atau
tanpa kurarisasi.
Diazepam sebaiknya diberikan dengan
syringe pump, jangan dicampur dalam botol cairan infus. Bilamana tidak ada
syringe pump, diberikan bolus tiap 2 jam (12 x/hari)
a.
Dapat dipertimbangkan penggunaan anti konvulsan lain,
seperti magnesium sulfat, bilamana ada gangguan saraf otonom.
5)
Terapi suportif
a.
Bebaskan jalan nafas
1)
Hindarkan aspirasi dengan menghisap lendir
perlahan-lahan & memindah-mindahkan posisi pasien)
2)
Pemberian oksigen
3)
Perawatan dengan stimulasi minimal
4)
Pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila perlu dapat
dipasang sonde nasogastrik, asal tidak memperkuat kejang
5)
Bantuan nafas pada tetanus berat atau tetanus
neonatorum
6)
Pemantauan/monitoring kejang dan tanda
penyulit
6)
Penatalaksanaan tetanus sesuai dengan derajat tetanus:
1.
Tetanus ringan (Derajat I):
a.
Diberikan terapi dasar tetanus
2.
Tetanus sedang (Derajat II):
a.
Terapi dasar tetanus
b.
Perhatian khusus pada keadaan jalan nafas (akibat
kejang dan aspirasi)
c.
Pemberian cairan parenteral, bila perlu nutrisi secara
parenteral.
3.
Tetanus berat/sangat berat (Derajat III a / III b)
a.
Terapi dasar seperti di atas
b.
Perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi atau
tracheostomi
c.
Balans cairan dimonitor secara ketat.
d.
Apabila spasme sangat hebat (tetanus berat),
perlu ventilasi mekanik dengan pankuronium bromida 0,02 mg/kg bb intravena,
diikuti 0,05 mg/kg bb/kali, diberikan tiap 2-3 jam.
e.
Apabila terjadi aktifitas simpatis yang berlebihan,
berikan b-blocker seperti propanolol/a dan b- blocker labetalol.
9. Prognosis
Prognosis tetanus diklassikasikan dari tingkat keganasannya, dimana:
1)
Ringan (Derajat I); bila tidak adanya kejang umum (
generalized spasm )
2)
Sedang (Derajat II); bila sekali muncul kejang umum
3)
Berat (Derajat III); bila kejang umum yang berat
sering terjadi.
Masa inkubasi neonatal tetanus berkisar antara 3 -14 hari, tetapi bisa
lebih pendek atau pun lebih panjang. Berat ringannya penyakit juga tergantung
pada lamanya masa inkubasi, makin pendek masa inkubasi biasanya prognosa makin
jelek. Case Fatality Rate (CFR) tetanus berkisar 44-55%, sedangkan tetanus
neonatorum > 60%.
10.
Pencegahan
Mencegah tetanus melalui vaksinasi adalah jauh lebih
baik daripada mengobatinya.
1)
Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai
bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus).
2)
Dewasa sebaiknya menerima booster
3)
Pada seseorang yang memiliki luka, jika:
a.Telah menerima booster tetanus dalam waktu 5 tahun
terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut
b.Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun
terakhir, segera diberikan vaksinasi
c.Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya
tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama
dari vaksinasi 3 bulanan.
4)
Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus
dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah
pertumbuhan bakteri Clostridium tetani.
BAB
II
Penutup
3.1 Kesimpulan
Tetanus
disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif anaerob,
Clostridium tetani. Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah,
kotoran manusia dan hewan peliharaan dan di daerah pertanian, namun juga dapat
ditemukan pada besi berkarat, ujung jarum atau peniti yang tidak steril. Yang
menyebabkan timbulnya gejala-gejala infeksi adalah racun yang dihasilkan oleh
bakteri, bukan bakterinya.
Pada bayi yang
baru lahir, kuman ini dapat masuk melalui luka iris tali pusat yang tidak
dipotong dengan pisau steril. Penyakit tetanus pada bayi yang baru lahir
disebut tetanus neonatorum dan merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak
pada bayi.
Kuman tetanus
ini dapat menyerang manusia maupun hewan. Kuman dapat masuk melalui luka, baik
luka dangkal maupun luka besar. Terdapat beberapa korban yang terinfeksi
tetanus akibat membersihkan gigi menggunakan jarum atau peniti yang
terkontaminasi kuman.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar